Tampilkan postingan dengan label Anak Cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Cerdas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2019

Manfaat Mengenalkan Sejarah Pada Anak (Serta Caranya)

Seseorang memerlukan panutan dalam hidupnya, oleh karena itu anak-anak dari kecil hendaknya dikenalkan pada tokoh-tokoh besar.

Mengenal tokoh-tokoh hebat adalah hal yang menyenangkan dan memotivasi.


Anak-anak yang dari kecil sudah dikenalkan pada sejarah dan orang-orang hebat, biasanya akan memiliki cita-cita tinggi dalam hidupnya.

Anak akan sangat semangat ketika mengingat tokoh yang dicintainya.

Kenalkan anak pada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sehingga anak termotivasi untuk menjadi orang yang berguna bagi negaranya.

Tentunya mengenalkan sejarah pada anak sesuai dengan umurnya. Jika anak semakin besar maka semakin kompleks dan detail sejarah yang bisa diajarkan.

Ceritakan sejarah dan kisah para tokoh hebat pada anak. Karakter anak akan terbentuk dari apa yang diceritakan.

Jika Anda ingin anak Anda nantinya menjadi seorang yang hebat, maka kenalkan anak pada figur-figur besar.

Ceritakan kisah pahlawan nasional yang pernah ada, ada banyak hikmah di dalamnya. Ceritakan kisah orang-orang di masa lalu yang terus berjuang dalam segala keterbatasan.

Mempelajari sejarah bukan tentang menghafal tahun dan tempat kejadian, tapi mengambil inspirasi besar dari kisah-kisah yang pernah terjadi.

Misalnya kisah tentang Jenderal Soedirman yang saat sakit parah tetap memimpin perjuangan rakyat Indonesia ketika Belanda menyerang dengan senjatanya yang lebih canggih.

 Seseorang memerlukan panutan dalam hidupnya Manfaat Mengenalkan Sejarah Pada Anak (Serta Caranya)
Jendral Soedirman

 Seseorang memerlukan panutan dalam hidupnya Manfaat Mengenalkan Sejarah Pada Anak (Serta Caranya)
Jendral Soedirman

Bisa juga menceritakan tentang kondisi berat yang dirasakan orang-orang pasca kemerdekaan. Saat itu, jangankan makan nasi jagung berlauk urap, makan singkong pun harus mencari sendiri di ladang.

Bahkan untuk anak-anak yang bapaknya pergi bergerilya bersama para pejuang, maka anak-anak kecil tersebut biasanya yang mencari sendiri singkong di ladang.

Dengan menceritakan hal-hal seperti ini anak akan bersyukur dengan kondisi saat ini, yang jauh lebih baik dibandingkan zaman dulu.


Ceritakan juga bahwa anak-anak dulu sekolah dengan jalan kaki, padahal sekolahnya jauh bisa berjarak 5-10 Km.

Ceritakan juga kisah Nabi Muhammad yang penuh cobaan. Beritahu anak tentang betapa sabarnya Nabi Muhammad (shallallhu alaihi wassalam).

Nabi Muhammad menjadi yatim piatu pada usia 6 tahun. Nabi Muhammad tinggal bersama pamannya yang bukan orang kaya.

Nabi sangat rajin membantu pamannya, bahkan sejak kecil Nabi telah terbiasa menggembalakan kambing.

Setelah berumur 40 tahun beliau diangkat oleh Allah menjadi Nabi. Nabi mendakwahkan orang-orang untuk menyembah Allah saja, tapi justru beliau malah dibenci, dimusuhi, dihina, difitnah, hingga dilempari batu.

Tapi walaupun begitu Nabi bersabar dalam berdakwah, hingga akhirnya agama Islam tersebar ke seluruh dunia.

Ceritakan pada anak tentang contoh-contoh perjuangan Nabi. Misalnya Nabi saat sujud pernah ingin diinjak kepalanya, walaupun Nabi terus-menerus mendapatkan perlakuan buruk tapi beliau tetap tegar dan bersabar dalam mendakwahkan Islam.

Penutup

Kesahan sebagian orang tua menganggap bahwa pembelajaran sejarah adalah tanggung jawab guru semata di sekolah.

Hal ironis yang perlu diketahui, bahwa pelajaran sejarah di sekolah hanya berkutat pada menghafal tahun dan tempat kejadian.

Padahal tujuan utama seorang anak belajar sejarah adalah untuk mengambil pelajaran/hikmah dari kejadian di masa lalu.

Banyak cara dalam mengenalkan sejarah pada anak sejak dini, tentunya disesuaikan dengan karakteristik anak.

Bercerita lah dengan alur sederhana yang mudah dipahami oleh anak, biasanya anak menyukai cerita  tentang figur pahlawan.

Penelitian: Rajin Olahraga Membuat Anak Lebih Pintar

Orang tua tentunya ingin sekali memiliki anak yang pintar dan berprestasi. Untuk menggapainya perlu usaha dan kerja keras.

Ilmuwan menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara rutin berolahraga dengan peningkatan kecerdasan otak.

 Orang tua tentunya ingin sekali memiliki anak yang pintar dan berprestasi Penelitian: Rajin Olahraga Membuat Anak Lebih Pintar
Photo credit: Shutterstock.com / By Monkey Business Images

Olahraga adalah hal yang sangat penting, baik itu dari anak-anak sampai orang dewasa. Setiap orang hendaknya meluangkan waktu untuk berolahraga.

Bahkan di sekolah, olahraga merupakan salah satu mata pelajaran yang diwajibkan untuk para murid.

Anak-anak sedari kecil harus dibiasakan melakukan aktivitas fisik. Olahraga selain menyehatkan tubuh, juga memacu kecerdasan.

Para ilmuwan di Michigan State Universiy’s Institute menjelaskan bahwa umumnya anak-anak yang rutin berolahraga memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak pernah atau jarang berolahraga.

Disebutkan bahwa olahraga akan melatih anak lebih fokus/berkonsentrasi dan juga membuat anak lebih mampu untuk mengatur waktunya sendiri.

Hal itu nantinya berdampak positif pada kegiatan belajarnya di sekolah, dimana anak dapat berkonsentrasi dengan baik dan mampu mengatur waktunya.

Berolahraga juga membuat stamina anak lebih kuat, sehingga anak dapat menyelesaikan kegiatan hariannya dengan baik, walau kegiatannya padat sekalipun.

Penelitian oleh Profesor Art Kramer beserta timnya dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, menemukan bahwa anak-anak yang rutin berolahraga mempunyai kemampuan ingatan yang lebih baik.

Peneliti juga menyebutkan bahwa anak-anak yang suka berolahraga umumnya memiliki otak berukuran lebih besar sekitar 12% dibandingkan anak-anak yang malas olahraga.

Aktivitas olahraga membuat aliran darah meningkat dan sangat lancar di dalam tubuh, hal ini nantinya akan mengoptimalkan fungsi otak dan sistem saraf.

Semakin lancar aliran darah di dalam tubuh, maka semakin optimal pasokan energi dan oksigen di dalam tubuh (termasuk bagian otak) yang akhirnya meningkatkan kinerja otak.

Hal ini kemudian membuat kemampuan berpikir anak menjadi lebih baik, anak dapat berpikir lebih jernih, dan semangat belajar anak juga meningkat.

Selain itu, aktivitas olahraga akan melatih kemampuan kognitif, konsentrasi, kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah.

Penutup

Selain memaksimalkan kegiatan akademisnya, orang tua juga perlu memotivasi anak berolahraga secara rutin, sehingga anak bisa berprestasi secara optimal di sekolahnya.

Sejumlah penelitian telah menemukan keterkaitan antara kebugaran/olahraga dan prestasi akademik anak di sekolah.

Manfaat olahraga juga untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, sehingga anak tidak mudah jatuh sakit dan selalu fit.

Beberapa bentuk aktivitas fisik/olahraga yaitu jalan kaki, jogging, lari cepat, futsal, basket, berenang, football, skipping, dan banyak lainnya.

18 Cara Meningkatkan Semangat Belajar Anak

Yang namanya anak-anak, butuh selalu dimotivasi agar semangat dalam belajarnya.

Anak-anak mudah sekali bosan yang membuatnya tidak mau belajar.

 butuh selalu dimotivasi agar semangat dalam belajarnya 18 Cara Meningkatkan Semangat Belajar Anak
Anak Belajar | Photo credit: Mediabakery.com

Anda sebagai orang tua harus berperan aktif untuk mengarahkan dan memotivasi si kecil.

Ubahlah suasana membosanan saat belajar menjadi suasana yang menggembirakan.

Jika Anda berhasil dalam memberikan motivasi, sehingga anak selalu rajin belajar, maka bukan tidak mungkin anak Anda bisa menjadi murid terbaik di kelasnya.

Berikut cara meningkatkan semangat belajar anak:

1. Dukungan Orang Tua

Sangat penting untuk selalu memberikan dukungan agar anak semangat belajar. Ucapkan kalimat-kalimat yang memotivasi anak agar rajin belajar.

Lalu sediakan fasilitas belajar yang berkualitas. Hadiahkan anak meja belajar, kalau bisa yang tampilannya menarik (walaupun mungkin lebih mahal).

Kondisikan kamar atau ruangan belajar yang nyaman untuk anak. Pokoknya sediakan hal-hal penting yang dibutuhkan anak, sehingga proses belajarnya berjalan baik.

Menata kamar anak sehingga terasa nyaman ternyata memiliki pengaruh besar untuk tingkat kerajinan/semangat anak dalam belajar.

Selain itu, jika anak melihat orangtuanya bersungguh-sungguh dan bersusah payah dalam menyediakan fasilitas belajar memadai untuk dirinya, anak akan merasa dihargai orang tuanya, yang membuat anak senang dan berusaha untuk tidak mengecewakan orangtuanya.


2. Beritahu Manfaat Belajar

Beritahukan anak tentang manfaat belajar, misalnya agar memperoleh nilai baik di sekolah, mempunyai masa depan lebih cerah, ataupun ilmu yang dipelajari akan berguna di dalam kehidupan sehari-hari.

Usahakan memberitahu tentang manfaat belajar dengan cara yang mudah dipahami anak (sesuai kemampuan nalar/tingkat berpikir anak).

Gunakan kata-kata yang mudah dimengerti saat menasehati atau memberi tahu anak.

Dengan memberitahu anak tentang tujuan/manfaat belajar, diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar anak.

Selain itu, orang tua perlu berusaha untuk membantu menemukan cita-cita anak. Diskusi kan apa yang menjadi cita-cita si anak.

Bisa juga menanyakan anak tentang profesi/pekerjaan yang ingin dilakukannya saat dewasa nanti.

Dengan memiliki tujuan hidup yang jelas (cita-cita), maka meningkatkan semangat anak untuk belajar.

Beritahu juga bahwa tanpa belajar seseorang tidak akan bisa menggapai cita-citanya.

3. Jangan Cuek

Dampingi anak saat belajar, jangan cuek. Orang tua harus selalu ada saat si kecil mengalami kesulitan.

Dampingi lah anak, berikan semangat, maka anak merasa sangat dihargai dan diperhatikan oleh orang tuanya.

Anak merasa orangtuanya sangat baik karena mau menemani dirinya saat belajar.

Orang tua boleh membantu anak dalam belajar, tapi bukan berarti orang tua yang justru mengerjakan semua tugas anak, adapun anak hanya berleha-leha.

Orangtua memposisikan diri sebagai teman belajar, membantu anak saat mengalami kesulitan.

4. Komunikasi

Orang tua harus rutin berkomunikasi dengan anak, tanyakan tentang kegiatan anak, misalnya saat di sekolah, nantinya anak akan banyak menceritakan pengalaman unik saat berada di sekolah.

Orang tua seharusnya mendengarkan cerita maupun curhatan anak dengan penuh perhatian, hal ini membuat anak merasa dihargai.

Jangan malas untuk membahas atau menanyakan tentang sekolah anak, hal ini membuat anak menyadari bahwa sekolah adalah hal yang sangat penting, sehingga anak akan bersungguh-sungguh dalam belajarnya.

loading...

5. Hadiah

Berikan reward saat anak berprestasi atau mendapatkan nilai bagus. Anak akan merasa dihargai dan senang, sehingga akan lebih bersemangat lagi dalam belajarnya.

Reward bisa berupa materi dan non-materi. Reward berupa materi misalnya dibelikan hadiah. Adapun reward non-materi misalnya memberikan pujian.

Berikan reward juga saat anak melakukan usaha keras atau rajin belajar.

6. Disiplin

Disiplin hanya bisa diperoleh dengan latihan. Oleh karena itu, anak sejak dini harus dilatih disiplin.

Salah satu jenis kedisiplinan yang perlu diajarkan pada anak yaitu menerapkan jam belajar. Dimana anak harus mematuhi waktu jam belajar.

Jika sudah masuk waktu belajar maka anak harus fokus untuk belajar, sehingga tidak boleh melakukan aktivitas lain seperti bermain game, nonton TV, browsing internet, dll.

Anak harus dilatih, jika sudah masuk waktu belajar maka jangan melakukan aktivitas lain.

7. Jadilah Teladan

Orang tua harus memberikan contoh yang baik pada anak. Seringkali seorang ayah melarang anaknya merokok, tapi si ayah sendiri malah merokok.

Jangan sampai ucapan dan prilaku bertentangan, sehingga wibawa orang tua jatuh di mata anak. Anak sangat memperhatikan gerak-gerik orang tuanya.

Orang tua yang memiliki sifat malas, kemungkinan besar akan memiliki anak yang pemalas juga. Hal itu karena anak mencontoh orang tuanya.

Jika orang tua kerjaannya suka nonton TV atau bermain smartphone, anak akan mencontohnya.

Demikian juga, jika orang tua rajin membaca buku, anak akan sangat termotivasi untuk rajin membaca buku.

8. Suasana Belajar

Kondisikan belajar yang nyaman. Dimana ruangan (tempat anak belajar) suasananya mendukung sehingga anak semangat dan nyaman saat belajar.

Pastikan ventilasi udara yang memadai sehingga udara di dalam ruangan tidak terasa pengap. Selain itu, ruangan jangan sampai penuh sesak oleh tumpukan barang.

Orang tua juga harus menghindari teriak-teriak di dalam rumah, hindari suka memarahi anak (apalagi saat waktu belajar anak) karena akan membuat anak bad mood.

Selain menjaga kenyamanan ruangan belajar anak, juga harus menjaga suasana hati anak agar selalu bersemangat.


Hal-hal lainnya yang penting diketahui:

9. Walaupun anak masih kecil (misalnya 3 tahun), usahakan anak terbiasa dengan yang namanya buku, walaupun belum bisa membacanya setidaknya anak melihat, memegang dan membuka buku.

10. Latih anak agar terbiasa membaca, sehingga saat sudah besar dirinya tidak lagi kaget dengan yang namanya buku.

11. Jadilah orang tua yang suka membacakan cerita buku pada anak-anak menjelang tidur.

12. Jangan kendor memberikan dukungan dan semangat pada anak agar mau belajar.

13. Sering-seringlah melakukan tanya-jawab dengan anak. Jika anak bertanya maka orang tua jangan malas untuk menjawabnya.

14. Memang merepotkan jika anak banyak bertanya, jika pertanyaan anak bagus hendaknya orang tua bersabar dalam menjawabnya. Kegiatan tanya-jawab ini akan merangsang kreativitas dan semangat anak dalam belajar.

15. Berikan Perhatian. Saat anak pulang sekolah, jangan malas untuk menanyakan pengalamannya saat di sekolah, apakah ada hal menyenangkan yang ingin diceritakan, atau mungkin anak ingin curhat (menceritakan tentang pengalaman yang tidak enak).

16. Dorong anak pada bidang yang menjadi bakatnya. Orang tua jangan memaksa anak harus selalu mendapatkan nilai bagus pada setiap mata pelajaran. Yang penting, cari tahu bakat anak di bidang apa, setelah itu fokus pada bidang tersebut.

17. Istirahat dan liburan. Jika anak telah rajin belajar, maka dia perlu refreshing. Ajak anak berlibur sehabis ujian atau saat di akhir pekan. Setelah anak belajar keras mungkin akan mengalami kejenuhan, maka perlu adanya istirahat ataupun refreshing.

18. Disatu sisi perlu memberikan hadiah saat anak rajin belajar, disisi lain perlu adanya penerapan hukuman jika anak malas belajar.

Hindari melakukan bentuk hukuman yang salah (misalnya memukul), berikan hukuman yang mendidik misalnya anak diskors tidak boleh bermain game di smartphone selama 1-2 Minggu.

Berikan bentuk hukuman, yang dengan hukuman tersebut bisa “memaksa” anak agar mau belajar.

Anak tidak akan berani mengulangi kesalahannya, karena jika melakukan kesalahan hukumannya tidak boleh bermain gadget selama seminggu.