Tampilkan postingan dengan label Wireless P2P. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wireless P2P. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2019

Wireless Point-To-Point Mikrotik

Wireless Point-to-Point Mikrotik - Wireless Point-to-Point ialah koneksi komunikasi wireless antara dua titik, dimana satu host terhubung hanya dengan satu client. Wireless Point-to-Point (P2P) Mikrotik memakai dua buah Mikrotik + Antena Directional (Grid, Yagi, Sectoral, dsb). Penerapan Wireless Point-to-point pada Mikrotik membutuhkan lisensi RouterOS minimal level 3 dengan mode bridge – station.

Perangkat Mikrotik yang dipakai yaitu Mikrotik Outdoor yang mempunyai ketahanan terhadap aneka macam macam kondisi cuaca, contohnya memakai RB 433. Mikrotik ini nantinya akan dipasang di tower komunikasi bersama antena directional nya. Untuk pemasangan Mikrotik dan antena nya sendiri harus memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Line of Sight

Line of Sight (LoS) ialah Jalur lurus antara pengirim (transmitter) dan akseptor (receiver) yang bebas dari penghalang. Kaprikornus jalur udara antara AP dan client sebisa mungkin tidak ada yang menghalangi, ibarat gedung, pepohonan, bukit, dll. Apabila ada penghalang maka konektivitas Wifi tidak akan maksimal, bahkan tidak akan dapat konek.

Fresnel Zone

Fresnel Zone ialah Area di sekitar garis lurus antar antena (LoS) yang dipakai sebagai media rambat frekuensi. Selain LoS yang bebas penghalang, area Fresnel Zone ini juga sebisa mungkin tidak terlalu banyak penghalang nya.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar berikut ini :

Antenna Alignment

Antenna Alignment yaitu arah dari antenna yang digunakan. Antenna client harus mengarah ke antenna AP, begitu juga sebaliknya. Sudut dan arah antenna juga harus diperhatikan, alasannya ialah kalau tidak mengarah dengan baik maka sinyal tidak akan diterima dengan maksimal.

Mikrotik 1 sebagai Access Point (AP)

Pada Mikrotik 1 ini dipakai sebagai AP dengan mode Bridge. Kenapa Bridge? Karena pada Point-to-Point hanya terjadi komunikasi dua arah saja antara AP dan satu Client. Jika Client nya lebih dari satu berarti itu termasuk Point-to-Multipoint. Nah, mode Bridge sendiri hanya memperbolehkan satu client saja yang dapat konek ke AP. 

Mikrotik 2 sebagai Client 

Client terhubung dengan AP via Wireless memakai mode Station. Pada mode Station biasa tidak mendukung L2 bridging, jadi tidak dapat dipakai untuk menciptakan jaringan transparent bridge wireless. Jika anda memakai mode Station biasa maka harus memakai routing, bukan nya bridge. 

Untuk konfigurasi pada Mikrotik nya, akan dibahas pada artikel selanjutnya. Maaf kalo setengah-setengah, alasannya ialah admin nya lagi sibuk nyusun kiprah final :D

Routing Vs Bridging Pada Wireless Point-To-Point Mikrotik

Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik - Wireless Point-to-Point merupakan koneksi komunikasi nirkabel antara dua titik, dimana satu host (access point) terhubung hanya dengan satu client (station). Penerapan Wireless Point-to-point (P2P) pada Mikrotik membutuhkan lisensi RouterOS minimal level 3 dengan mode bridge – station. Wireless P2P Mikrotik sanggup dilakukan dengan metode routing maupun bridging. Perbedaan metode routing dan bridging pada wireless point-to-point Mikrotik ialah sebagai berikut:

Metode Routing

Metode routing dilakukan dengan cara memperlihatkan IP address pada interface Wlan dan Ether dengan segmen jaringan yang berbeda, sehingga untuk menghubungkan dua segmen berbeda tersebut dilakukan routing, baik secara dynamic maupun static. Contoh konfigurasi routing sanggup dilihat pada Gambar berikut ini :

Kelebihan dari penggunaan metode routing ialah tidak ada broadcast traffic atau flood yang sanggup mengurangi performa jaringan wireless. Sedangkan kekurangannya ialah perlu konfigurasi yang lebih rumit dengan penggunaan lebih banyak IP address.

Metode Bridging

Metode bridging yaitu dengan melaksanakan bridge pada interface Wlan dan Ether sehingga sanggup diberikan satu IP address atau tanpa IP address supaya menjadi transparan, ibarat yang ditunjukkan pada Gambar berikut ini :

Kelebihan memakai metode bridging yaitu alokasi penggunaan IP address lebih sedikit, bahkan sanggup tanpa IP address. Sedangkan kekurangannya yaitu akan terjadi broadcast traffic atau flood dari tiap client yang sanggup menyebabkan menurunnya performa jaringan wireless sehingga tidak cocok diterapkan pada jaringan skala besar.

Dari kedua metode tersebut baik Routing maupun Bridging sama-sama mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jika anda ingin membangun jaringan Wireless Point-to-point yang transparan sanggup memakai teknik bridging. Sedangkan bila ingin membangun jaringan Wireless Point-to-Point skala besar dengan client dan station yang banyak sanggup memakai teknik routing. Untuk konfigurasi dan cara seting nya akan dibahas pada artikel selanjutnya di blog Tutorial Mikrotik Indonesia ini.

Penjelasan Wireless Transparent Bridge Mikrotik

Pada Artikel sebelumnya sudah pernah dibahas perihal Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik. Nah, kini kita bahas lebih mendalam lagi perihal Bidging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik. Untuk sanggup membangun jaringan wireless point-to-point pada Mikrotik diharapkan teknik Bridging pada interface-interface yang digunakan.

Bridge yaitu sebuah perangkat antar jaringan yang merelai frame-frame data dari satu segmen jaringan ke segmen jaringan lain, sehingga mengakibatkan segmen-segmen jaringan tersebut muncul sebagai sebuah LAN tunggal yang besar, yang disebut sebagai extended LAN atau bridged LAN.

Bridge mempunyai kemampuan untuk memproses keputusan perelaian/perutean sebuah frame berada dalam bridge itu sendiri, sehingga transparan terhadap stasiun-stasiun yang berkomunikasi, sehingga disebut juga Transparent Bridge. Penggunaan transparent bridge pada wireless point-to-point Mikrotik sanggup dilakukan dengan beberapa mode wireless yang berbeda pada host (akses poin) dan klien (station).

Ada beberapa mode wireless yang sanggup dipakai untuk membangun  Wireless Transparent Bridge Mikrotik. Berikut diantaranya :

1. Mode Bridge – Station + EoIP 

Wireless P2P pada Mikrotik dengan memakai mode Bridge pada AP dan mode Station pada klien. Station yaitu mode standar untuk klien AP yang tidak mendukung L2 bridging. Penggunaan bridge dengan mode ini tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan. Di sisi lain mode ini sanggup dianggap paling efisien dan kesudahannya harus dipakai kalau tidak memakai L2 bridging pada station.

Mode ini sanggup dipakai di semua protokol nirkabel, sehingga bisa dipadukan dengan perangkat selain Mikrotik. Walaupun tidak mendukung L2 Bridging, namun mode station masih bisa dipakai untuk membangun jaringan Wireless P2P Mikrotik dengan cara memadukan mode ini dengan fitur EoIP. 

Ethernet over Internet Protocol (EoIP) Tunneling yaitu protokol Mikrotik RouterOS yang menciptakan ethernet tunnel (terowongan ethernet) antara dua router pada koneksi IP. EoIP Tunnel yaitu protokol Ethernet sejati yang dikemas pada tingkat IP sehingga memakai semacam ini terowongan antara AP dan Station, sehingga sanggup mengirimkan frame Ethernet penuh.

Teknik ini menyajikan antarmuka virtual pada setiap perangkat (AP dan station) yang sanggup dijembatani tolong-menolong untuk menciptakan transparent bridge pada sambungan nirkabel. Interface Ether dan EoIP di-bridge dan interface wlan pada kedua router diberi Alamat IP lokal satu segmen untuk menghubungkan keduanya melalui protokol EoIP. Konfigurasi mode ini ditunjukkan pada Gambar berikut ini:




2. Mode Bridge – Station WDS Station 

WDS yaitu mode Station yang mendukung fitur Wireless Distribution System dan L2 bridging. Wireless Distribution System (WDS) yaitu sistem yang memungkinkan interkoneksi nirkabel AP pada jaringan IEEE 802.11. Hal ini memungkinkan jaringan nirkabel yang akan diperluas memakai beberapa jalur susukan tanpa memerlukan backbone kabel untuk menghubungkan nya, ibarat yang diharapkan secara konvensional. Keuntungan utama dari WDS atas solusi lain yaitu bahwa WDS mempertahankan alamat MAC dari frame klien di seluruh koneksi antar AP.

Konfigurasi pada mode ini dengan menciptakan interface WDS pada AP baik WDS statis maupun WDS dinamis. Kemudian pada AP interface WDS di-bridge dengan Ether, sedangkan pada klien interface Wlan di-bridge dengan Ether. Namun penggunaan WDS pada wireless P2P mempunyai beberapa kelemahan, yaitu kalau koneksi terputus waktu (delay) untuk kembali terkoneksi lebih usang dan hanya bisa dipakai di RouterOS sehingga tidak mendukung penggunaan perangkat selain Mikrotik.


3. Mode Bridge – Bridge 

Pada mode ini kedua Mikrotik dipakai sebagai AP dengan mode Bridge. Wireless Distribution System (WDS) dipakai untuk menciptakan komunikasi nirkabel antara kedua AP. Sehingga secara umum hampir sama ibarat mode Bridge – Station WDS hanya saja dalam mode ini kedua Mikrotik diset sebagai Bridge.

Dengan demikian kedua Mikrotik memancarkan sinyal sebagai AP dengan SSID, band, dan frekuensi yang sama semoga bisa saling terhubung melalui WDS Link. Karena memakai WDS, maka mode ini hanya sanggup dipakai antar perangkat Mikrotik. Konfigurasi mode ini dilakukan dengan menciptakan interface WDS dan mengaktifkan fitur WDS pada kedua AP. Kemudian interface WDS dan Ether di-bridge. Konfigurasi mode ini ditunjukkan pada Gambar berikut ini :


4. Mode Bridge – Station Pseudobridge 

Station Pseudobridge yaitu mode station yang mendukung L2 Bridging namun hanya satu mac-addresss saja yang bisa aktif di belakang AP, jadi hanya bisa untuk satu klien saja. Mode ini sanggup dipakai pada semua protokol kecuali Nv2 dan sedapat mungkin dihindari penggunaannya.

Mode ini bisa dipakai kalau AP tidak mendukung mode yang lebih baik untuk L2 bridging (misalnya dikala non-RouterOS AP yang digunakan) atau kalau hanya satu perangkat harus terhubung ke jaringan melalui perangkat stasiun.

Konfigurasi mode ini dilakukan dengan menentukan mode Station-pseudobridge pada klien. Kemudian interface Wlan dan Ether di-bridge pada AP dan stasiun. Konfigurasi Wireless Bridge Mikrotik mode Bridge – Station Pseudobridge sanggup dilihat pada Gambar berikut :


5. Mode Bridge – Station Bridge 

Mode Station Bridge hanya sanggup dipakai pada perangkat dengan sistem operasi RouterOS. Mode ini menyediakan santunan untuk L2 bridging pada perangkat stasiun. Mode ini yaitu hak milik MikroTik dan tidak sanggup dipakai untuk menghubungkan perangkat merek lain. Mode ini kondusif dipakai untuk L2 bridging dan harus dipakai bila ada alasan yang cukup untuk tidak memakai mode station-wds.

Hal ini relatif stabil, tetapi menambahkan cpu dan overhead memori untuk paket forwarding, dan tidak seefisien kalau tidak memakai bridge sama sekali. Konfigurasi mode ini hampir sama ibarat mode Bridge – Station Pseudobridge, hanya mode pada klien saja yang dirubah ke Station Bridge, ibarat yang terlihat pada Gambar berikut :


Keempat mode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tidak semua protokol nirkabel mendukung mode tersebut, sehingga ada mode yang tidak bisa dipakai dengan perangkat selain Mikrotik. Perbandingan mode Wireless Mikrotik ditunjukkan pada Tabel berikut :


Mode Wireless Mikrotik
802.11
ROS 802.11
Nstreme
Nv2
station
√
√
√
√
station-wds

√
√
√
station-pseudobridge
√
√
√

station-bridge

√
√
√
 

Pada Tabel tersebut ada empat mode dan empat spesifikasi protokol nirkabel dimana masing-masing mode mendukung beberapa spesifikasi protokol dan ada yang tidak mendukung. Spesifikasi standar protokol IEEE 802.11 mendukung mode station dan station-pseudobridge saja. Pada spesifikasi protokol ROS 802.11 yang merupakan protokol hak milik khusus RouterOS Mikrotik mendukung semua mode tersebut.

Pada protokol Nstreme sama ibarat ROS 802.11, dimana merupakan protokol hak milik Mikrotik dan mendukung semua mode. Sedangkan pada Nv2 yang merupakan perkembangan dari Nstreme yakni Nstreme version 2 mendukung semua mode kecuali station-pseudobridge.

Demikianlah artikel perihal Penjelasan Wireless Transparent Bridge Mikrotik yang saya ambilkan sedikit dari isi Laporan Tugas Akhir saya. Semoga artikel ini sanggup menambah pengetahuan gres bagi anda sekalian.

Salam,

Rizky Agung Pratama

Penjelasan Parameter Kehandalan Wireless Mikrotik

Kehandalan (performance) WiFi sanggup ditentukan oleh beberapa parameter, yaitu kuat sinyal (signal strength), Signal to Noise Ratio (SNR), Clien Connection Quality (CCQ), Data Rate, Bandwidth, Throughput dan Packet Lost. Berikut klarifikasi masing-masing parameter.

1. Kuat Sinyal (Signal Strength) 

Kualitas sinyal memilih handal tidak nya suatu WiFi. Semakin kuat sinyal maka semakin baik dan handal konektivitas nya. Sinyal pada WiFi ditunjukan dengan besaran dBm yaitu satuan level daya dengan tumpuan daya 1 mW = 10-3 Watt.

Rentang kuat sinyal pada WiFi yaitu antara -10 dBm hingga kurang lebih -99 dBm dimana semakin nilai nya mendekati positif maka semakin besar kuat sinyal nya. Kuat sinyal sanggup dikategorikan menurut kualitas nya sebagai berikut :

a. Excellent (green): -57 to -10 dBm (75 - 100%)
b. Good (green): -75 to -58 dBm (40 - 74%)
c. Fair (yellow): -85 to -76 dBm (20 - 39%)
d. Poor (red): -95 to -86 dBm (0 - 19%)

2. Signal to Noise Ratio (SNR)

Sebuah sambungan nirkabel yang memakai frekuensi tertentu akan mendapatkan apa pun yang ditransmisikan, ditambah lagi kebisingan (gangguan) di sekitar perangkat. Jika kekuatan transmisi secara signifikan lebih kuat dari kebisingan, maka perangkat sanggup efektif mengabaikan kebisingan. Jika sinyal yang diterima sebanding dengan kebisingan lingkungan sekitar, maka perangkat nirkabel tidak akan bisa membedakan sinyal dari perangkat lawan dengan kebisingan. Hal ini akan mengakibatkan komunikasi nirkabel dan data tidak berjalan dengan baik.

Signal to Noise Ratio (SNR) ialah rasio perbandingan antara sinyal yang diterima dengan gangguan (derau) sekitar dengan satuan desibel (dB).

Serangkaian tes dilakukan untuk memilih dampak dari nilai SNR pada performa nirkabel dan juga kuat pada kestabilan sambungan (link) terhadap beban sambungan. Kualitas dari SNR dibagi kedalam beberapa kategori, sebagai berikut :

a. > 40dB SNR = Excellent signal (5 bars), Cepat terkoneksi, troughput maksimal dan stabil.
b. 25dB - 40dB SNR = Very good signal (3 - 4 bars), Terkoneksi baik, throughput maksimal.
c. 15dB - 25dB SNR = Low signal (2 bars), Terkoneksi baik, throughput tidak maksimal.
d. 10dB - 15dB SNR = very low signal (1 bar), koneksi tidak terlalu stabil, throughput rendah.
e. 5dB - 10dB SNR = no signal, koneksi sangat tidak stabil, throughput sangat rendah.


3. Client Connection Quality (CCQ)

Client Connection Quality (CCQ) ialah nilai dalam persen yang menunjukkan efektifitas bandwidth yang digunakan terhadap bandwidth maksimum yang tersedia secara teoritis. CCQ berbanding lurus dengan troughput yang bisa didapatkan pada sebuah sambungan nirkabel. Semakin elok CCQ maka semakin tinggi troughput yang didapatkan. Tetapi kuat sinyal yang elok tidak menjamin mendapatkan troughput yang tinggi. Hal ini disebabkan pada jaringan nirkabel mempunyai dua tipe kuat sinyal (signal strength) yaitu kuat sinyal TX yang merupakan signal dari perangkat yang diterima di perangkat lawan dan kuat sinyal RX yaitu sinyal perangkat lawan yang diterima di perangkat tersebut. Jika kedua tipe kuat sinyal tidak sama (rata-rata seimbang) maka komunikasi nirkabel tidak akan berjalan dengan baik.

Nilai terbesar CCQ yaitu 100% sehingga semakin mendekati 100% maka semakin elok CCQ nya. Nilai CCQ yang jelek sanggup terjadi lantaran pengarahan antena yang kurang tepat. Nilai CCQ yang jelek juga sanggup berakibat pada kualitas jaringan nirkabel menjadi kurang bagus, lantaran sering terjadi packet loss.

4. Data Rate

Pada komunikasi WLAN terdapat parameter Data Rate yang melambangkan kemampuan atau kapasitas transfer data (throughput) dari komunikasi wireless tersebut. Setiap satuan Data Rate memakai modulasi nirkabel yang berbeda. Semakin besar Data Rate maka semakin kompleks modulasi yang digunakan.

Data Rate untuk standar nirkabel 802.11b masih memakai modulasi standard DSSS, DPSK (Digital PSK) dan bandwith maksimal yang bisa didapatkan ialah 11Mbps. Data Rate untuk standar nirkabel 802.11a/g memakai adonan modulasi yang berbeda. Untuk data rate 6 dan 9 Mbps memakai modulasi BPSK, dan untuk data rate 12 dan 18 Mbps memakai modulasi QPSK, sedangkan untuk Untuk data rate 24 hingga 54 Mbps memakai modulasi QAM.

5. Packet Loss

Packet loss merupakan besar dari paket yang hilang dalam jaringan lantaran terjadi gesekan atau collision. Packet loss terjadi ketika satu atau lebih paket data yang dikirim melalui jaringan komputer tidak sanggup mencapai tujuan. Yang menjadi faktor timbulnya packet loss ialah kepadatan kemudian lintas data dan bandwidth. Semakin besar bandwidth, maka akan memperkecil terjadinya gesekan data antara user yang satu dan yang lainnya.

Jika terjadi packet loss maka protokol jaringan yang ada pada router akan meminta pengirim untuk mengirim ulang paket data yang hilang tersebut. Pada ketika proses pengiriman ulang data yang hilang tersebut maka akan mengakibatkan meningkatnya nilai waktu tunggu pengiriman paket (jitter). Detektor dari packet loss berada didalam router yang berjulukan Carrier Sense Multiple Access And Collision Detection (CSMA-CD) pada jaringan LAN dan Carrier Sense Multiple Access And Collision Avoidance (CSMA-CA) untuk jaringan nirkabel. Standar ITU (International Telecommunication Union) untuk packet loss ialah dihentikan melebihi 10% dari jumlah paket data keseluruhan.

6. Bandwidth dan Throughput

Bandwidth (lebar pita) ialah besaran yang menunjukkan seberapa banyak data yang sanggup dilewatkan dalam koneksi melalui sebuah jaringan, yang menunjukkan kemampuan maksimum dari suatu alat untuk menyalurkan warta dalam satuan waktu detik. Satuan yang digunakan untuk bandwidth ialah bit per detik (bits per second) atau sering disingkat sebagai bps.

Ternyata konsep bandwidth tidak cukup untuk menjelaskan kecepatan jaringan dan apa yang terjadi di jaringan. Untuk itulah konsep throughput muncul. Throughput ialah bandwidth positif yang terukur pada suatu ukuran waktu tertentu dalam suatu hari memakai rute internet yang spesifik ketika sedang mendownload suatu file. Throughput lebih pada menggambarkan bandwidth yang bersama-sama (aktual) pada suatu waktu tertentu dan pada kondisi dan jaringan internet tertentu yang digunakan untuk mengunduh suatu berkas (file) dengan ukuran tertentu. 

Tips Mengikuti Tes Sertifikasi Mtcna Mikrotik

Sertifikasi MTCNA (Mikrotik Training Certified Network Associated) merupakan sertifikasi Mikrotik yang paling dasar. Ada beberapa sertifikasi yang disediakan oleh Mikrotik, yaitu :

    MTCNA - MikroTik Certified Network Associate (Basic Essentials)
    MTCRE - MikroTik Certified Routing Engineer (Routing)
    MTCWE - MikroTik Certified Wireless Engineer (Wireless)
    MTCTCE - MikroTik Certified Traffic Control Engineer (Traffic Control)
    MTCUME - MikroTik Certified User Management Engineer (User Manager)
    MTCINE - MikroTik Certified Inter-networking Engineer (Inter Networking)

Untuk sanggup mempunyai akta MTCWE, MTCRE, MTCTCE, MTCUME dan MTCINE, sebelumnya harus sudah lolos sertifikasi MTCNA terlebih dahulu. Oleh sebab itu sertifikasi MTCNA menjadi sangat penting bagi anda penggiat Mikrotik. Jadi, kali ini kita akan membahas tips untuk sertifikasi MTCNA Mikrotik.

Sertifikasi diselenggarakan oleh forum pembinaan yang sudah menjalin kerjasama dengan Mikrotik. Di Indonesia ada banyak forum pembinaan Mikrotik yang menyelenggarakan Training sekaligus Sertifikasi nya. Untuk sanggup mengikuti sertifikasi Mikrotik harus membayar biaya ke forum pembinaan tersebut, untuk nominal harga nya bervariasi tergantung forum pembinaan tersebut. Jika ikut sertifikasi maka dilakukan pembinaan bahan Mikrotik dulu oleh forum pembinaan (biasanya lebih dari sehari) lalu gres dilakukan ujian sertifikasi. 

Berikut ini beberapa peraturan pada tes sertifikasi Mikrotik :

  • Soal ujian sertifikasi memakai bahasa Inggris. 
  • Tidak boleh copy paste dan screenshot soal.
  • Waktu mengikuti Ujian Online Jika Score Dibawah atau sama dengan 49 maka dinyatakan TIDAK LULUS
  • Jika Score Antara 50%-59% akan menerima kesempatan yg ke 2 dengan Mengikuti Ujian Online sekali lagi (biasanya soalnya lebih rumit)
  • Jika Score 60% keatas dinyatakan LULUS
  • Dan bagi yg ingin menjadi TRAINER Score Lulus Minimal 75 %
  • Masa Berlaku Sertifikat 3 Tahun
  • Tipe ujian nya open book, jadi boleh buka buku apa saja, namun dihentikan tanya dan mencontek siapapun. 
Oke kini kita bahas wacana tips nya. Karena MTCNA merupakan tes Mikrotik basic, maka soal yang akan keluar itu merupakan dasar-dasar (basic) Mikrotik, menyerupai Router OS secara umum, Firewall, QoS, Network Management, Wireless, Bridging, Routing, dan Tunnel. 

Berikut ini beberapa Tips Mengikuti Tes Sertifikasi MTCNA Mikrotik :

Tips #1
Soal yang dipakai berbahasa Inggris, jadi kalo kalian ga sanggup berbahasa Inggris sanggup memanfaatkan tool Google Translate untuk menterjemahkan soalnya, tapi ingat jangan copy paste soalnya! Tulis ulang saja soalnya untuk menghindari hal-hal yang tidak anda inginkan ok? ;)

Tips #2
Kerjakanlah soal yang gampang dulu. Jika ada soal yang susah lewati saja cari yang gampang dulu.

Tips #3
Jawaban dari soal tersebut biasanya sudah ada di wiki.mikrotik.com. Silakan anda cari saja, atau sanggup juga cari di google.

Tips #4
Jangan tergesa-gesa dalam mengerjakan soal. Jika anda sudah tamat sebelum waktunya, telitilah kembali balasan anda. 

Tips #5 
Berdoalah sebelum ujian, dan yakinkan diri anda bahwa anda niscaya sanggup mengerjakan dengan baik semua soalnya dan lulus dengan nilai memuaskan.

Tips #6
Anda sanggup mencoba mengerjakan latihan soal dari akun Mikrotik anda. Atau juga sanggup mencoba mengerjakan teladan soal MTCNA Mikrotik yang sanggup anda download disini. 

Oke, mungkin sekian dulu tips dari saya. Karena sudah usang juga tes ujian sertifikasi Mikrotik ini saya ikuti jadi udah agak lupa-lupa ingat gitu. Dulu juga pas ikut tes ga bayar alias Gratis, sebab diselenggarakan oleh kampus saya di Diploma Teknik Elektro, UGM. Makara mohon maklum jikalau informasinya ada yang kurang.

Oya, kalo udah tamat maka akan muncul hasil ujian nya menyerupai gambar berikut :


Seperti klarifikasi di atas, kalau nilai nya 60% keatas maka tes nya lulus. Saya cuma sanggup mampu 68% saja sebab tes nya dilakukan beberapa bulan sesudah mata kuliah Mikrotik di Kampus saya. Makara cuma berguru sehari tok eksklusif tes, alhasil cuma sanggup segini :D Nilai segitu pun yakni nilai tertinggi loh diantara semua yang ikut tes waktu itu :D.

Oke, kalo udah lulus sertifikasi Mikrotik kita akan sanggup Sertifikat nya. Nah akta ini eksklusif jadi sesudah anda lulus, tapi bentuknya berupa Softcopy. Anda sanggup mendownload file Sertifikat nya pada akun Mikrotik anda. Pada kepingan Training, pilih my certificates.


Silakan anda download file nya berupa PDF atau images.

Oya, kalau anda ikut tes di forum pembinaan Mikrotik maka anda akan menerima Sertifikat juga dari forum tersebut. Karena saya ikut yang gratisan dari kampus jadi ga dapet Sertifikat yang itu :D

Ini yakni akta Mikrotik MTCNA saya :
Mungkin cukup sekian dulu sharing dari saya wacana Tips Mengikuti Tes Sertifikasi MTCNA Mikrotik. Bagi anda yang akan menghadapi ujian Sertifikasi Mikrotik biar dengan membaca info ini anda sanggup lebih siap dan lebih baik dalam mengerjakan soalnya.

Download Contoh Soal Sertifikasi MTCNA Mikrotik disini!