Tampilkan postingan dengan label Wireless Mikrotik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wireless Mikrotik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2019

Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik

Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik - Router Mikrotik mempunyai fungsi dan fitur Wireless yang sanggup kita manfaatkan untuk komunikasi antar perangkat dengan Mikrotik memakai media komunikasi nirkabel. Namun tidak semua Mikrotik sanggup memakai fitur Wireless ini, alasannya yaitu tidak semua tipe Mikrotik ada Wireless Card nya. 

Sebut saja Mikrotik RB 750 yang hanya punya 5 interface ethernet dan tanpa interface wireless alasannya yaitu tidak ada wireless card nya. Khusus untuk Mikrotik Outdoor, sebagian besar sanggup memakai fitur Wireless alasannya yaitu tersedia slot Mini PCI untuk wireless card.

Oke, kali ini kita akan belajar Mikrotik wireless yaitu penggunaan wireless tools standard Mikrotik. Wireless tools ini sangat penting dalam membangun jaringan wireless dengan mikrotik, untuk memantau dan memonitor kondisi jaringan wireless disekeliling kita.

Untuk memakai wireless tools ini anda sanggup memakai winbox dan masuk ke hidangan Wireless.


Atau sanggup juga dengan masuk ke interface wlan nya dengan dobel klik wlan.



Ada beberapa Wireless tools pada mikrotik dengan fungsi berbeda, yakni : Scanner, Frequency Usage Snooper, Align, dan Sniffer. Berikut klarifikasi masing-masing wireless tool :

Scanner Tool Mikrotik
Sesuai dengan namanya, scanner berfungsi untuk melaksanakan scan dengan mengatakan Access point mana saja yang aktif di sekitar perangkat. Scanner akan menampilkan isu dari AP disekeliling Mikrotik secara detail mulai dari Mac Address, SSID, Band, Frequensi, Sinyal, SNR, Radio Name, hingga versi RouterOS nya (jika perangkat itu Mikrotik). Berikut ini teladan penggunaan Scanner.


Frequency Usage Tool Mikrotik
Tool ini berfungsi untuk melaksanakan scanning penggunaan frekuensi disekitar perangkat mikrotik anda. Frequency Usage akan menampilkan beban penggunaan masing-masing frekuensi apakah banyak dipakai apa sepi pengguna. Sehingga kita sanggup memilih frekuensi mana yang tidak terlalu ramai penggunanya untuk mengurangi interferensi.


Snooper Tool Mikrotik

Dengan memakai Snooper tool maka sanggup diketahui load dan besar traffic tiap frequensi dengan isu yang lebih mendetail. Snooper sanggup menampilkan info Access Point, jumlah Station dan Client nya, sinyal, serta masing-masing bandwidth nya.


Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik

Sniffer Tool Mikrotik

Packet Sniffer yaitu tool yang disediakan dalam Mikrotik untuk menangkap dan menyadap paket-paket yang berjalan di jaringan. Tool ini sangat mempunyai kegunaan untuk menganalisa trafik jaringan kita.


Oke sekian dulu pembahasan wacana Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik. Semoga bermanfaat :)

Penjelasan Setting Dasar Mode Wireless Mikrotik

Penjelasan Setting Dasar Mode Wireless Mikrotik - Untuk sanggup memakai fungsi wireless pada Mikrotik ada beberapa parameter setingan yang harus diperhatikan. Namun sebelum kita melanjutkan pembahasan ini ada baiknya anda baca artikel sebelumnya perihal Penjelasan Penggunaan Wireless Tools Mikrotik. Oke mari kita lanjut berguru Mikrotik Wireless nya.

Hal yang dibahas disini yaitu tab Wireless pada setingan interface Wlan. Silakan anda buka Winbox masuk ke sajian Wireless --> double klik interface wlan --> masuk tab Wireless.


  
Parameter Untuk konfigurasi minimal : 
  • Mode
  • Band
  • Frequency
  • SSID
  • Scan-List 
Berikut ini yaitu beberapa klarifikasi dari parameter-parameter di atas :

Parameter Mode Wireless Mikrotik

 

AP modes:
> ap-bridge : mode standard untuk Access Point.
> bridge : sama menyerupai mode ap-bridge tetapi hanya mendapatkan satu client.
> wds-slave : mode ap-bridge tetapi bisa untuk melaksanakan scan terhadap AP yang mempunyai SSID yang sama dan membangun WDS link ke AP tersebut. Jika terputus maka akan dilakukan scaning ulang dan akan terkoneksi kembali.
Station modes:
> station : Mode Client paling sederhana
> station-wds : mode station yang mengaktifkan WDS bridge
> station-pseudobridge : mode station tetapi ditabahkan fungsi MAC translation sehingga interface wireless bisa dimasukkan ke dalam bridge.
> station-pseudobridge-clone : mode station yang memakai fungsi station-bridge- clone-mac address

Special modes:

> alignment-only : mengaktifkan mode align transmit untuk dipakai sebagai membantu pointing antenna.
> nstreme-dual-slave : dipakai kalau ingin memakai Dual-Nstreme

Parameter Band

band : Opsi untuk memilih standard wireless yang ingin digunakan
> 2.4ghz-b – memakai standard IEEE 802.11b
> 2.4ghz-b/g - IEEE 802.11g (supports also legacy IEEE 802.11b protocol).
> 2.4ghz-g-turbo - IEEE 802.11g memakai double channel yang kecepatan teoritisnya yaitu sampai 108 Mbit.
> 2.4ghz-onlyg – hanya menggunaan standard IEEE 802.11g
> 2ghz-10mhz – variasi dari IEEE 802.11g dengan memakai setengah dari lebar grup musik standard (air rate of up to 27Mbit)
> 2ghz-5mhz - variasi dari IEEE 802.11g dengan memakai seperempat dari lebar grup musik standard (air rate of up to13.5Mbit)
> Turbo channel hanya support di card non-N dan hanya ada di ROS versi 2.xx,3.xx dan 4.xx.

> 5ghz – memakai standard IEEE 802.11a 54Mbit.
> 5ghz-turbo - IEEE 802.11a memakai double channel yang kecepatan teoritisnya yaitu sampai 108 Mbit.
> 5ghz-10mhz - variasi dari IEEE 802.11a dengan memakai setengah dari lebar grup musik standard (air rate of up to 27Mbit)
> 5ghz-5mhz - variasi dari IEEE 802.11a dengan memakai seperempat dari lebar grup musik standard (air rate of up to 13.5Mbit)
> Turbo channel hanya support di card non-N dan hanya ada di ROS versi 2.xx,3.xx dan 4.xx.
> Penggunaan Band 5ghz ini harus seizin dept. kominfo, dihentikan dipakai sembarangan.

Parameter Frequency, Scan, Scan list

frequency – Frequency yang dipakai untuk AP.
> Parameter ini akan diabaikan Jika pada pernagkat diaktifkan mode “client”.
> ssid (text) – Sebagai identitas dari jaringan wireless.
> scan-list – nilai default yaitu channel ISM (standard channel) sesuai dengan grup musik yang digunakan. > Scan list bisa berupa range, list dari channel yang dipisahkan dengan tanda comma atau bisa juga campuran dari keduanya.
> Contoh: scan-list=default,2222,2312-2362
> Dari scan list tersebut perangkat akan melaksanakan scan di default channel dan beberapa range  frequency custom.
> Penggunaan custom channel bergantung dari setting “channel-mode”

Parameter Tx Rate

default-ap-tx-limit (integer; default: 0) – yaitu limit traffic rate untuk pengiriman data dari AP ke tiap client (bps).
0 – berarti tanpa limit

default-client-tx-limit
(integer; default: 0) – yaitu limit traffic rate untuk pengiriman data dari tiap client ke AP (bps). Hanya bekerja kalau client sama-sama memakai mikrotik.
0 – berarti tanpa limit

Parameter Checklist

> default-authentication (default value: yes) :
Jika dipakai mode AP maka semua client yang tidak dibatasi di access-list akan diautentikasi dan bisa terkoneksi.
Jika dipakai di mode station maka wireless bisa terkoneksi ke AP manapun yang tidak dibatasi di connect-list.

> default-forwarding (default value: yes) :
Adalah parameter yang dipakai untuk forwarding traffic dari client ke client yang lain dalam AP yang sama. Bisa dibatasi lebih spesifik per clientnya di access-list.

> hide-ssid (default value: no) :

yes – kalau diaktifkan maka AP tidak akan memasukkan gosip SSID pada beacon frame dan tidak akan menawarkan frame akibat berisi gosip SSID kalau ada undangan gosip SSID.

no – AP akan memasukkan gosip SSID pada frame beacon dan akan menawarkan gosip SSID kalau ada undangan gosip SSID.
Setting ini hanya besar lengan berkuasa kalau memakai mode AP, sesungguhnya tidak besar lengan berkuasa banyak pada security alasannya gosip SSID tetap dimasukkan pada frame yang lain (bukan beacon frame).

Dari Penjelasan Setting Dasar Mode Wireless Mikrotik tersebut anda sanggup mengatur setingan nya sesuai impian anda. Silakan anda coba sendiri. Sekian dulu tutorial mikrotik indonesia kali ini. Semoga bermanfaat :)

3 Sistem Keamanan Berlapis Wireless Mikrotik

3 Sistem Keamanan Berlapis Wireless Mikrotik - Keamanan (security) ialah hal yang krusial dan harus diperhatikan dikala kita membangun suatu jaringan, terutama jaringan wireless. Karena jaringan Wireless sanggup dilihat, diketahui, dan diakses siapa saja. Sehingga sudah seharusnya kita menerapkan sistem keamanan tertentu pada jaringan Wireless ini.


Setidaknya ada 3 sistem keamanan yang sanggup kita terapkan pada jaringan Wireless Mikrotik, dan ketiganya sanggup diterapkan bersamaan sehingga tingkat keamanan akan lebih terjamin. Berikut ini ialah 3 Sistem Keamanan Berlapis Wireless Mikrotik :

Hide SSID

Hide SSID ialah sebuah opsi pada Wireless Mikrotik untuk menyembunyikan nama SSID dari Mikrotik kita.  Anda sanggup memakai opsi ini pada hidangan Wireless --> wlan --> tab Wireless.

Makara kalau opsi ini dicentang, maka SSID Mikrotik nya tidak akan muncul pada perangkat lain kalau di scan. Hanya akan muncul sebagai Hidden Network pada laptop Windows.


Yang perlu diperhatikan kalau memakai Hide SSID ialah SSID pada AP harus diisi. Kemudian pada Client harus mengisikan nama SSID nya AP dan setingan Frequency yang sama dengan AP untuk sanggup Konek. Makara Frequency dan SSID pada AP dan Client harus SAMA.

Security Profile

Security Profile ialah salah satu fitur pada Mikrotik untuk menambahkan metode autentikasi memakai enkripsi dynamic key : WPA/WPA2 dan static key : WAP. Penggunaan enkripsi yang disarankan yaitu WAP2 PSK + tkip + aes con. Untuk masuk fitur ini sanggup mealui hidangan Wireless --> Security Profiles.



Kemudian untuk mengaktifkan security profile ini masuk ke hidangan Wireless --> wlan --> tab Wireless --> opsi Security Profile --> ganti default dengan Security Profile yang sudah dibuat.


Jika memakai Security Profile maka konfigurasi Security Profile pada AP dan Client harus sama, kalau berbeda maka tidak akan sanggup konek.

Access List dan Connect List

Access List ialah adalah filter autentikasi sebuah AP (mode Access Point) terhadap client yang terkoneksi. Dengan Access List AP sanggup memfilter perangkat mana saja yang boleh/bisa konek ke AP menurut MAC address nya. Makara Access list dipakai di AP untuk memilih client mana saja yang boleh konek ke AP.



Connect List ialah adalah filter autentikasi sebuah wireless client (mode Station) terhadap AP mana yang ingin terkoneksi. Dengan connect list maka sanggup ditentukan AP mana yang sanggup dikoneksikan ke Client menurut MAC address nya. Makara Connect list dipakai di client untuk memilih client ini mau konek ke AP yang mana.



Jika ingin memakai fitur ini maka kita harus uncheck opsi Default Authenticate pada hidangan tab Wireless. Jika tidak maka fitur ini tidak akan aktif.


Dengan memakai ketiga sistem keamanan itu secara bersamaan, sanggup dipastikan keamanan jaringan Wireless Mikrotik kita akan terjamin. Mungkin cukup sekian dulu belajar mikrotik nya wacana 3 Sistem Keamanan Berlapis Wireless Mikrotik. 
Semoga bermanfaat :)

Berapa Jarak Maksimum Kabel Utp Untuk Poe Mikrotik?

Berapa Jarak Maksimum Kabel UTP untuk PoE Mikrotik? - Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dipikiran anda yang sering seting mikrotik terutama Mikrotik Outdoor. PoE atau kepanjangan dari Power over Ethernet yakni suatu alat yang sanggup menyalurkan tegangan listrik melalui media kabel UTP untuk menyalakan Mikrotik atau alat lainnya. Makara tidak perlu menarik kabel power adapter terlalu panjang. Solusi tepat bagi anda yang ingin membangun jaringan wireless Mikrotik outdoor baik Point to Point (PtP) maupun Point to Multi Point (PtM).

Sudah tau kan ibarat apa bentuk Power over Ethernet (PoE) Mikrotik? Penampakan PoE Mikrotik nya ibarat dibawah ini.

Pada gambar PoE di atas, ada dua port untuk konektor RJ-45. 
  • Port LAN --> dari PoE ke PC untuk remote Mikrotik. Panjang kabel maksimal 100 meter.
  • Port POE --> dari PoE ke Mikrotik untuk menghidupkan Mikrotik. Panjang kabel maksimal ??
Secara teori kabel jarak maksimal kabel UTP yakni 100 meter. Namun pada prakteknya sanggup berbeda tergantung kondisi lapangan dan peralatan.

Nah, kini pertanyaannya Berapa Jarak Maksimum Kabel UTP untuk PoE Mikrotik?
Jawabannya juga bermacam-macam. Ada yang bilang sanggup hingga 20 meter, 40 meter, 50 meter, bahkan 80 meter. Namun pastinya kondisi lapangan dan alat yang dipakai juga berbeda-beda.

Menurut pengalaman saya, jarak maksimum kabel UTP untuk PoE Mikrotik kurang-lebih 20 meter untuk tegangan 24V. Hasilnya mikrotik sanggup bekerja dengan normal. Namun saat aku tambah panjang kabel PoE menjadi 35 meter dengan tegangan 24V, Mikrotik tidak mau nyala.

Kemudian aku coba menambahkan tegangan menjadi 30V dengan mengganti power adaptor bawaan Mikrotik dengan power adaptor yang sanggup di atur teganganya dari 18 - 32 Volt. Hasilnya, Mikrotik mau nyala dan sanggup di ping serta remote dari PC.



Jangan naikkan tegangan terlalu tinggi. Walaupun pada RB mikrotik nya sudah dilengkap dengan fitur Overvoltage Protection hingga 60 Volt, namun ada baiknya jangan gunakan tegangan yang terlalu tinggi semoga RB lebih awet.

Kendala yang sering muncul saat memakai PoE dengan kabel UTP yang panjang yaitu :
  1. Mikrotik tidak mau nyala alasannya yakni kabel terlalu panjang.
  2. Mikrotik nyala tapi sering restart dan mati sendiri alasannya yakni loss tegangan pada kabel UTP terlalu tinggi.
  3. Mikrotik nyala tapi tidak sanggup diakses (remote) baik ping maupun via Winbox alasannya yakni kabel terlalu panjang.

Bagaimana solusi untuk penggunaan PoE Mikrotik dengan kabel panjang tersebut?
  1. Gunakan kabel UTP cat 5 dengan kualitas terbaik dan pastikan crimping connector RJ-45 sempurna.
  2. Untuk pemasangan outdoor dianjurkan memakai kabel STP.
  3. Cek tegangan output dari PoE ke Kabel, pastikan drop tegangan tidak terlalu besar.
  4. Solusi yang paling jitu yaitu dengan menaikkan tegangan PoE Adaptor, contohnya dari 24V menjadi 30V.
Info di artikel ini sanggup dijadikan acuan, namun hasil yang anda dapatkan belum tentu sama. Hasil yang anda dapatkan mungkin akan berbeda, alasannya yakni sekali lagi semua itu tergantung dari kondisi lapangan dan peralatan yang digunakan.

Demikianlah tanggapan dari pertanyaan Berapa Jarak Maksimum Kabel UTP untuk PoE Mikrotik? Semoga bermanfaat dan bila ada pertanyaan atau saran silakan isi kolom komentar di bawah.
Terima kasih :)

Wireless Point-To-Point Mikrotik

Wireless Point-to-Point Mikrotik - Wireless Point-to-Point ialah koneksi komunikasi wireless antara dua titik, dimana satu host terhubung hanya dengan satu client. Wireless Point-to-Point (P2P) Mikrotik memakai dua buah Mikrotik + Antena Directional (Grid, Yagi, Sectoral, dsb). Penerapan Wireless Point-to-point pada Mikrotik membutuhkan lisensi RouterOS minimal level 3 dengan mode bridge – station.

Perangkat Mikrotik yang dipakai yaitu Mikrotik Outdoor yang mempunyai ketahanan terhadap aneka macam macam kondisi cuaca, contohnya memakai RB 433. Mikrotik ini nantinya akan dipasang di tower komunikasi bersama antena directional nya. Untuk pemasangan Mikrotik dan antena nya sendiri harus memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Line of Sight

Line of Sight (LoS) ialah Jalur lurus antara pengirim (transmitter) dan akseptor (receiver) yang bebas dari penghalang. Kaprikornus jalur udara antara AP dan client sebisa mungkin tidak ada yang menghalangi, ibarat gedung, pepohonan, bukit, dll. Apabila ada penghalang maka konektivitas Wifi tidak akan maksimal, bahkan tidak akan dapat konek.

Fresnel Zone

Fresnel Zone ialah Area di sekitar garis lurus antar antena (LoS) yang dipakai sebagai media rambat frekuensi. Selain LoS yang bebas penghalang, area Fresnel Zone ini juga sebisa mungkin tidak terlalu banyak penghalang nya.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar berikut ini :

Antenna Alignment

Antenna Alignment yaitu arah dari antenna yang digunakan. Antenna client harus mengarah ke antenna AP, begitu juga sebaliknya. Sudut dan arah antenna juga harus diperhatikan, alasannya ialah kalau tidak mengarah dengan baik maka sinyal tidak akan diterima dengan maksimal.

Mikrotik 1 sebagai Access Point (AP)

Pada Mikrotik 1 ini dipakai sebagai AP dengan mode Bridge. Kenapa Bridge? Karena pada Point-to-Point hanya terjadi komunikasi dua arah saja antara AP dan satu Client. Jika Client nya lebih dari satu berarti itu termasuk Point-to-Multipoint. Nah, mode Bridge sendiri hanya memperbolehkan satu client saja yang dapat konek ke AP. 

Mikrotik 2 sebagai Client 

Client terhubung dengan AP via Wireless memakai mode Station. Pada mode Station biasa tidak mendukung L2 bridging, jadi tidak dapat dipakai untuk menciptakan jaringan transparent bridge wireless. Jika anda memakai mode Station biasa maka harus memakai routing, bukan nya bridge. 

Untuk konfigurasi pada Mikrotik nya, akan dibahas pada artikel selanjutnya. Maaf kalo setengah-setengah, alasannya ialah admin nya lagi sibuk nyusun kiprah final :D

Routing Vs Bridging Pada Wireless Point-To-Point Mikrotik

Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik - Wireless Point-to-Point merupakan koneksi komunikasi nirkabel antara dua titik, dimana satu host (access point) terhubung hanya dengan satu client (station). Penerapan Wireless Point-to-point (P2P) pada Mikrotik membutuhkan lisensi RouterOS minimal level 3 dengan mode bridge – station. Wireless P2P Mikrotik sanggup dilakukan dengan metode routing maupun bridging. Perbedaan metode routing dan bridging pada wireless point-to-point Mikrotik ialah sebagai berikut:

Metode Routing

Metode routing dilakukan dengan cara memperlihatkan IP address pada interface Wlan dan Ether dengan segmen jaringan yang berbeda, sehingga untuk menghubungkan dua segmen berbeda tersebut dilakukan routing, baik secara dynamic maupun static. Contoh konfigurasi routing sanggup dilihat pada Gambar berikut ini :

Kelebihan dari penggunaan metode routing ialah tidak ada broadcast traffic atau flood yang sanggup mengurangi performa jaringan wireless. Sedangkan kekurangannya ialah perlu konfigurasi yang lebih rumit dengan penggunaan lebih banyak IP address.

Metode Bridging

Metode bridging yaitu dengan melaksanakan bridge pada interface Wlan dan Ether sehingga sanggup diberikan satu IP address atau tanpa IP address supaya menjadi transparan, ibarat yang ditunjukkan pada Gambar berikut ini :

Kelebihan memakai metode bridging yaitu alokasi penggunaan IP address lebih sedikit, bahkan sanggup tanpa IP address. Sedangkan kekurangannya yaitu akan terjadi broadcast traffic atau flood dari tiap client yang sanggup menyebabkan menurunnya performa jaringan wireless sehingga tidak cocok diterapkan pada jaringan skala besar.

Dari kedua metode tersebut baik Routing maupun Bridging sama-sama mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Jika anda ingin membangun jaringan Wireless Point-to-point yang transparan sanggup memakai teknik bridging. Sedangkan bila ingin membangun jaringan Wireless Point-to-Point skala besar dengan client dan station yang banyak sanggup memakai teknik routing. Untuk konfigurasi dan cara seting nya akan dibahas pada artikel selanjutnya di blog Tutorial Mikrotik Indonesia ini.

Penjelasan Wireless Transparent Bridge Mikrotik

Pada Artikel sebelumnya sudah pernah dibahas perihal Routing Vs Bridging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik. Nah, kini kita bahas lebih mendalam lagi perihal Bidging pada Wireless Point-to-Point Mikrotik. Untuk sanggup membangun jaringan wireless point-to-point pada Mikrotik diharapkan teknik Bridging pada interface-interface yang digunakan.

Bridge yaitu sebuah perangkat antar jaringan yang merelai frame-frame data dari satu segmen jaringan ke segmen jaringan lain, sehingga mengakibatkan segmen-segmen jaringan tersebut muncul sebagai sebuah LAN tunggal yang besar, yang disebut sebagai extended LAN atau bridged LAN.

Bridge mempunyai kemampuan untuk memproses keputusan perelaian/perutean sebuah frame berada dalam bridge itu sendiri, sehingga transparan terhadap stasiun-stasiun yang berkomunikasi, sehingga disebut juga Transparent Bridge. Penggunaan transparent bridge pada wireless point-to-point Mikrotik sanggup dilakukan dengan beberapa mode wireless yang berbeda pada host (akses poin) dan klien (station).

Ada beberapa mode wireless yang sanggup dipakai untuk membangun  Wireless Transparent Bridge Mikrotik. Berikut diantaranya :

1. Mode Bridge – Station + EoIP 

Wireless P2P pada Mikrotik dengan memakai mode Bridge pada AP dan mode Station pada klien. Station yaitu mode standar untuk klien AP yang tidak mendukung L2 bridging. Penggunaan bridge dengan mode ini tidak akan menunjukkan hasil yang diharapkan. Di sisi lain mode ini sanggup dianggap paling efisien dan kesudahannya harus dipakai kalau tidak memakai L2 bridging pada station.

Mode ini sanggup dipakai di semua protokol nirkabel, sehingga bisa dipadukan dengan perangkat selain Mikrotik. Walaupun tidak mendukung L2 Bridging, namun mode station masih bisa dipakai untuk membangun jaringan Wireless P2P Mikrotik dengan cara memadukan mode ini dengan fitur EoIP. 

Ethernet over Internet Protocol (EoIP) Tunneling yaitu protokol Mikrotik RouterOS yang menciptakan ethernet tunnel (terowongan ethernet) antara dua router pada koneksi IP. EoIP Tunnel yaitu protokol Ethernet sejati yang dikemas pada tingkat IP sehingga memakai semacam ini terowongan antara AP dan Station, sehingga sanggup mengirimkan frame Ethernet penuh.

Teknik ini menyajikan antarmuka virtual pada setiap perangkat (AP dan station) yang sanggup dijembatani tolong-menolong untuk menciptakan transparent bridge pada sambungan nirkabel. Interface Ether dan EoIP di-bridge dan interface wlan pada kedua router diberi Alamat IP lokal satu segmen untuk menghubungkan keduanya melalui protokol EoIP. Konfigurasi mode ini ditunjukkan pada Gambar berikut ini:




2. Mode Bridge – Station WDS Station 

WDS yaitu mode Station yang mendukung fitur Wireless Distribution System dan L2 bridging. Wireless Distribution System (WDS) yaitu sistem yang memungkinkan interkoneksi nirkabel AP pada jaringan IEEE 802.11. Hal ini memungkinkan jaringan nirkabel yang akan diperluas memakai beberapa jalur susukan tanpa memerlukan backbone kabel untuk menghubungkan nya, ibarat yang diharapkan secara konvensional. Keuntungan utama dari WDS atas solusi lain yaitu bahwa WDS mempertahankan alamat MAC dari frame klien di seluruh koneksi antar AP.

Konfigurasi pada mode ini dengan menciptakan interface WDS pada AP baik WDS statis maupun WDS dinamis. Kemudian pada AP interface WDS di-bridge dengan Ether, sedangkan pada klien interface Wlan di-bridge dengan Ether. Namun penggunaan WDS pada wireless P2P mempunyai beberapa kelemahan, yaitu kalau koneksi terputus waktu (delay) untuk kembali terkoneksi lebih usang dan hanya bisa dipakai di RouterOS sehingga tidak mendukung penggunaan perangkat selain Mikrotik.


3. Mode Bridge – Bridge 

Pada mode ini kedua Mikrotik dipakai sebagai AP dengan mode Bridge. Wireless Distribution System (WDS) dipakai untuk menciptakan komunikasi nirkabel antara kedua AP. Sehingga secara umum hampir sama ibarat mode Bridge – Station WDS hanya saja dalam mode ini kedua Mikrotik diset sebagai Bridge.

Dengan demikian kedua Mikrotik memancarkan sinyal sebagai AP dengan SSID, band, dan frekuensi yang sama semoga bisa saling terhubung melalui WDS Link. Karena memakai WDS, maka mode ini hanya sanggup dipakai antar perangkat Mikrotik. Konfigurasi mode ini dilakukan dengan menciptakan interface WDS dan mengaktifkan fitur WDS pada kedua AP. Kemudian interface WDS dan Ether di-bridge. Konfigurasi mode ini ditunjukkan pada Gambar berikut ini :


4. Mode Bridge – Station Pseudobridge 

Station Pseudobridge yaitu mode station yang mendukung L2 Bridging namun hanya satu mac-addresss saja yang bisa aktif di belakang AP, jadi hanya bisa untuk satu klien saja. Mode ini sanggup dipakai pada semua protokol kecuali Nv2 dan sedapat mungkin dihindari penggunaannya.

Mode ini bisa dipakai kalau AP tidak mendukung mode yang lebih baik untuk L2 bridging (misalnya dikala non-RouterOS AP yang digunakan) atau kalau hanya satu perangkat harus terhubung ke jaringan melalui perangkat stasiun.

Konfigurasi mode ini dilakukan dengan menentukan mode Station-pseudobridge pada klien. Kemudian interface Wlan dan Ether di-bridge pada AP dan stasiun. Konfigurasi Wireless Bridge Mikrotik mode Bridge – Station Pseudobridge sanggup dilihat pada Gambar berikut :


5. Mode Bridge – Station Bridge 

Mode Station Bridge hanya sanggup dipakai pada perangkat dengan sistem operasi RouterOS. Mode ini menyediakan santunan untuk L2 bridging pada perangkat stasiun. Mode ini yaitu hak milik MikroTik dan tidak sanggup dipakai untuk menghubungkan perangkat merek lain. Mode ini kondusif dipakai untuk L2 bridging dan harus dipakai bila ada alasan yang cukup untuk tidak memakai mode station-wds.

Hal ini relatif stabil, tetapi menambahkan cpu dan overhead memori untuk paket forwarding, dan tidak seefisien kalau tidak memakai bridge sama sekali. Konfigurasi mode ini hampir sama ibarat mode Bridge – Station Pseudobridge, hanya mode pada klien saja yang dirubah ke Station Bridge, ibarat yang terlihat pada Gambar berikut :


Keempat mode tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tidak semua protokol nirkabel mendukung mode tersebut, sehingga ada mode yang tidak bisa dipakai dengan perangkat selain Mikrotik. Perbandingan mode Wireless Mikrotik ditunjukkan pada Tabel berikut :


Mode Wireless Mikrotik
802.11
ROS 802.11
Nstreme
Nv2
station
√
√
√
√
station-wds

√
√
√
station-pseudobridge
√
√
√

station-bridge

√
√
√
 

Pada Tabel tersebut ada empat mode dan empat spesifikasi protokol nirkabel dimana masing-masing mode mendukung beberapa spesifikasi protokol dan ada yang tidak mendukung. Spesifikasi standar protokol IEEE 802.11 mendukung mode station dan station-pseudobridge saja. Pada spesifikasi protokol ROS 802.11 yang merupakan protokol hak milik khusus RouterOS Mikrotik mendukung semua mode tersebut.

Pada protokol Nstreme sama ibarat ROS 802.11, dimana merupakan protokol hak milik Mikrotik dan mendukung semua mode. Sedangkan pada Nv2 yang merupakan perkembangan dari Nstreme yakni Nstreme version 2 mendukung semua mode kecuali station-pseudobridge.

Demikianlah artikel perihal Penjelasan Wireless Transparent Bridge Mikrotik yang saya ambilkan sedikit dari isi Laporan Tugas Akhir saya. Semoga artikel ini sanggup menambah pengetahuan gres bagi anda sekalian.

Salam,

Rizky Agung Pratama